Sabtu, 08 Januari 2011

Buruh Migran kencangkan Ikat Pinggang


Buruh Migran kencangkan Ikat Pinggang

Diterbitkan : 19 Mei 2009 - 10:52am | Oleh Lioe Hesseling 

Para buruh migran menghadapi masalah-masalah pelik dalam krisis ekonomi dunia sekarang. Mereka berjuang untuk bisa terus mengirim uang kepada keluarga di rumah.

Buruh migran dari Asia, Afrika dan Amerika Latin menghadapi pilihan pelik ketika pengangguran meningkat dan iklim politik di negara tempat mereka bekerja juga makin sengit. Ada yang berkemas untuk pulang kampung saja. Tetapi kelompok yang lebih besar lagi meningkatkan upaya supaya bisa terus mengirim uang ke kampung halaman.
Di Kanada, Schin Trivedi berbuat apa saja supaya bisa tetap mengirim uang ke ibunya di India. Buruh migran berusia 37 tahun ini mengirim sekitar 5000 dolar setahun. Di tengah cuaca buruk perekonomian, Triveldi bertekad tetap mengirim uang. "Ini tanggung jawab, jadi saya harus memenuhinya. Saya harus tetap mengirim uang kepada ibu di rumah."

Sepatu baru
Aliran yang disebut remittances atau uang kiriman para buruh migran sekarang terancam. Krisis ekonomi global menyebabkan para buruh migran ini terancam pengangguran dan iklim politik yang makin tidak ramah, karena mereka dianggap mencuri lowongan kerja warga setempat. Di lain pihak, keluarga di negara asal mereka tergantung pada uang kiriman yang bahkan bisa mencapai 65 persen pendapatan keluarga itu.

Manuel Oroszco, pakar yang menekuni aliran uang kiriman buruh migran menjelaskan apa dampak berkurangnya uang kiriman ini bagi mereka yang menerima:

"Dalam masa sulit ini, keluarga terlebih dahulu akan meninjau anggaran belanja mereka. Akibatnya makanan mewah dikurangi atau berpikir dua kali sebelum beli sepatu baru. Kalau resesi berlanjut, mereka terpaksa membelajakan tabungan, dan kalau tabungan habis maka situasi bagi gawat, itu adalah krisis."

Dolar merosot
Di negara tujuan, para buruh pendatang cenderung mengurangi pengeluaran supaya bisa terus mengirim uang ke kampung halaman. Apalagi karena keluarga punya pengeluaran tetap, seperti cicilan rumah dan uang sekolah.

Di Barranquilla, Kolombia, Johana Campo yang berusia 21 tahun, bisa kuliah di universitas karena  bibinya di Miami mengirim uang tiap bulan. Karena tahun lalu dolar anjlok sampai 10% terhadap peso Kolombia, maka bibi Johana harus meningkatkan uang yang dikirim ke kampung asalnya. "Itu perlu untuk mengimbangi meningkatnya peso," kata Johana.

Uang lengket
Pedro Da Lima dari Bank Investasi Eropa, EIB, membenarkan bahwa uang yang dikirim ke rumah itu sekarang harus bisa bertahan menghadapi merosotnya pertumbuhan ekonomi:

"Ada alasan-alasan tertentu kenapa orang pindah ke negara lain dan mengirim upahnya ke rumah. Buruh migran tetap ingin mempertahankan taraf hidup keluarganya, mereka ingin membayar biaya pendidikan anak-anak atau memberesi perawatan kesehatan orang tua. Jadi uang yang dikirim ke rumah itu sudah lengket pada pengeluaran-pengeluaran tertentu."

Imigran diusir
Tekanan terhadap buruh migran supaya hengkang saja makin meningkat sejak krisis ekonomi memicu pengangguran. Proteksionisme tumbuh pesat sejalan dengan upaya mencari kambing hitam di negara-negara makmur yang terancam kekayaan mereka.
Britania dan Amerika Serikat menerapkan undang-undang yang melarang buruh migran melamar kerja, memaksa perusahaan-perusahaan mengutamakan 'pekerja pribumi'. Kebijakan pemberian visa bagi buruh asing diperketat dan pengusiran buruh migran yang tidak memiliki dokumen akan dipercepat. Pakar aliran uang buruh migran Manuel Oroszco mengatakan:

"Banyak majikan dengan mudah memPHK buruh, dan itu dimulai dengan buruh imigran. Karena, kalau yang dipecat buruh migran, maka majikan tidak perlu berurusan dengan asuransi atau tunjangan pengangguran. Hanya ada dua pilihan yang berkaitan dengan imigran: upah tetap rendah, atau bisa dipecat tanpa harus mengurusi tunjangan penggangguran, yang seharusnya mereka bayar kalau menyangkut karyawan biasa."

Di kompleks rumah kaca raksasa Campo de Dalias, dekat Almeria di Spanyol selatan, para buruh migran Afrika kini digeser oleh buruh Spanyol yang terancam pengangguran. Mereka kini mau memetik tomat sepanjang hari dengan upah 35 euro, itu dianggap sebagai peluang baik ekonomi.

Bekerja lebih keras
Tapi menurut Leila Rispens, kepala LSM kredit mikro INAFI, di seluruh dunia para migran terbukti sangat mampu bangkit kembali. Mereka akan bekerja tigakali lipat lebih keras dan akan mengurangi kebutuhan sendiri agar tetap bisa kirim uang ke sanak keluarga.

Luis Alberto Moreno, direktur Inter American Development Bank, setuju: "Kaum migran mudah menyesuaikan diri dengan kondisi sulit. Mereka ganti pekerjaan, memperpanjang jam kerja, mengurangi pengeluaran, pindah ke kota lain, bahkan mengambil uang tabungan agar tetap dapat mengirim uang ke sanak keluarga. Pulang kampung merupakan pilihan terakhir."

Ada alasan lain untuk tetap bertahan. Makin sulit masuk sebuah negara tertentu, makin besar pula kemungkinan buruh migran yang tidak memiliki surat-surat untuk tidak pindah walaupun sudah tidak bekerja lagi. Dengan adanya kebijakan migrasi yang fleksibel, kaum migran bisa keluar masuk sesuai lowongan kerja. Tetapi pemerintah yang mendukung kebijakan imigrasi ketat secara tidak langsung malah justru mendorong buruh migran ilegal untuk menetap di situ.



Indonesia Pengekspor Buruh Migran Terbesar Dunia

Selasa, 31 Agustus 2010 20:25 WIB

Kupang (ANTARA News) - Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor buruh migran terbesar dunia, akibat keterbatasan lapangan kerja dan kemiskinan, kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Perempuan Sarinah Nusa Tenggara Timur Lucia Adinda Lebu Raya di Kupang, Selasa.

Berdasarkan laporan "CARAM", sebuah lembaga peneliti AIDS dan Pertumbuhan Penduduk di Asia, setidaknya persentase buruh migran perempuan (BMP) Indonesia mencapai 80 persen.

"Sebagian besar dari buruh migran perempuan itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi, Malaysia, Singapura dan Hongkong," katanya.

Selain itu, kata Adinda, laporan "Human Rights Watch" menyebutkan setiap tahun antara periode 2006 sampai 2009, kurang lebih 5-6 juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bekerja di luar negeri.

Dari total TKI tersebut, sekitar 70 persen di antaranya adalah buruh perempuan dengan rata-rata lulusan SD, SMP, dan tertinggi SMA.

"Keterbatasan pendidikan dan ketrampilan inilah yang mengakibatkan kebanyakan dari mereka harus bekerja di sektor rumah tangga, buruh pabrik, buruh bangunan, penjaga toko, dan sebagainya," katanya.(*)


'Semangat Garuda' Buruh Migran di Singapura

Jumat, 05 Februari 2010 00:00 Arief Musthofifin

Ditha Purnama (35 tahun) asal Ciamis, Jawa Barat, ketika bekerja di Singapura dia mendapatkan gaji 250 dollar Singapura per bulan. Pada tahun ketujuh (2008) di Singapura, gaji bulanan Ditha mencapai 450 dollar Singapura (sekitar Rp 3 juta). Meskipun sebagai pekerja rumah tangga (PRT), Dhita tidak ingin terbelakang.

Di sela-sela tugasnya sebagai PRT keluarga asal Swedia, Dhita mengambil kursus komputer dan manajemen bisnis, serta menjalankan bisnis multilevel marketing.

Dari uang yang dikirim kepada orang tuanya di Indonesia, Dhita sudah memiliki investasi mesin penggiling padi seharga Rp 70 juta. Usaha penggilingan padi yang dijalankan oleh orang tuanya mampu menghasilkan pemasukan Rp 2 juta sampai 2,5 juta per bulan untuk keluarganya.

Sekarang, Dhita kembali mengumpulkan modal puluhan juta rupiah untuk mewujudkan cafe internet sewaktu dia pulang kampung kelak. Kita bisa melihat secara seksama, bahwa kesuksesan yang tercermin dari buruh migran tadi karena dia memiliki samangat “Garuda”. Yakni wujud nyata dari usaha-usaha mengembalikan Garuda Indonesia yang terus mengerdil, hingga menjadi burung emprit agar bisa tumbuh membesar kembali sebagai garuda sejati. Sehingga apa yang terjadi pada sementara orang sebagai buruh migran di luar negeri, bukan untuk selamanya menjadi buruh, namun untuk kelak di kemudian hari bisa menjadi sebagai pemilik buruh.

Pada tahun 2000 saat bersama majikan asal Swiss, dia bisa belajar komputer di Institut Informatika Singapura selama 1,5 tahun. Atas usaha dan semangat untuk menempa diri, pada tahun 2008 Sumarni diperkenalkan dan diumumkan sebagai Ketua Himpunan Penata Laksana Rumah Tangga di Singapura (HPLRTIS), suatu wadah komunitas pekerja rumah tangga di Singapura dari lebih 10.000 buruh migran di Singapura dengan para pejabat setempat.

Bekerja dan Menempa Diri

Ruang-ruang kesempatan untuk menempa diri selama menjalankan kontrak kerja di luar negeri, merupakan kesempatan emas yang perlu diisi dengan aktivitas yang terbaik. Yaitu bagaimana memanfaatkan waktu dan situasi yang sama, namun engan hasil yang lebih. Niat yang dibangun ketika menjadi buruh migran bukan hanya soal mencari d a n mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan makan harian.

Banyak yang bisa diraih dari sekadar akumulasi (terkumpulnya) materi-materi, harta dan benda. Di antaranya akumulasi modal, pengetahuan, jalinan hubungan yang luas, dan keahlian yang terus meningkat, serta akumulasi generasi, karena landasan pijak untuk semua laku ialah ketepatan menjalani niat.

Seperti difirmankan Allah SWT dalam surat Asyura Ayat 20 [Q.S. 42: 20]; Allah memberikan pembalasan kepada amal seseorang menurut niatnya. Dengan demikian, meskipun disibukkan dengan kewajiban mengurus rumah tangga majikan, buruh migran yang punya kebulatan tekad untuk menempa diri, Allah SWT akan memberikan jalan-Nya.

Meneguhkan Semangat Garuda


Fakta-fakta tadi adalah suatu bukti ketika ruang antar-dalam kemanusiaan tesingkap, maka jalan penghubung kelengkapannya terbuka lebar. Perbedaan antara buruh dan majikan mungkin terbatas pada bahasa penyebutan atau status kerjasama, bukan pada status beda agama atau beda kepemilikan materi. Justru sebagai hubungan kemanusiaan, buruh dan majikan adalah setara dalam ke-khalifahan [Q.S. 2:30].

Jalinan dan pertautan kerjasama saling membutuhkan dan menguatkan tersurat dalam surah al-Hujurat ayat 13. ”...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu…” [Q.S. 49: 13].

Semangat yang menembus selsel batas antarmanusia akibat bentukan beda negara, status sosial, lingkungan, agama, dan kepemilikan materi, perlu terus-menerus diteguhkan jalannya. Semangat garuda bisa juga diartikan penghilangan atas rasa minder dan rendah diri terhadap bangsa lain.

Karena keminderan manusia PRT atas makhluk lain merupakan jalan lancar untuk berpaling dari-Nya. Syeikh Abdul Qodir Jaelani memberikan tiga hal yang bisa kita pakai untuk membuka ruang perantara hubungan setara antar sesama yang dapat pula dipakai pada relasi buruh migran dengan majikan. Yakni, ilmu, hikmah, dan siyasah. Ketiganya niscaya diperlakukan secara berimbang dan pas agar tercipta jalinan selaras antarruang kehidupan dan kemanusiaan. Menjadi buruh migran atau PRT di luar negeri bukanlah perburuhan, namun kemuliaan atau tingginya derajat pencapaian. Karena perubahan dan kehormatan posisi sesungguhnya merupakan perwujudan dari kelakuan pelakunya [Q.S. 13: 11]. Wallahu a'lam bil-shawab.



Pekerja migran China tertekan karena tuntutan besar dari kampung halaman.

Desaku Sayang, Desaku Malang
Industrialisasi China telah mengubah rupa perdesaan Negeri Tirai Bambu. Desa ditinggalkan oleh pemudanya dan yang tersisa hanya orang tua dan anak-anak.

Rumah Ma Xianqian di desa bagian tengah China tampak lengang. Tulisan yang tertera di pintu gerbang rumah itu bermakna harapan kemakmuran.

Namun demi mengejar kemakmuran, Ma harus kehilangan nyawanya. Ma, pria pemalu berusia 19 tahun, termasuk salah seorang dari sepuluh pekerja di kompleks pabrik elektronik Foxconn yang tewas bunuh diri.

Kasus yang terjadi di pabrik di bagian selatan China itu menguak kondisi tragis 150 juta pekerja migran China. Foxconn dan kepolisian yakin Ma, sama seperti sembilan pekerja muda lainnya, tewas karena bunuh diri.

Namun orang tua Ma menduga putranya itu tewas dibunuh. Mereka mengatakan putranya sempat mendapat perlakuan semena-mena dari atasannya di pabrik.

Serangkaian kematian pekerja Foxconn selama tahun ini memicu kemarahan para pekerja di seluruh China yang menguak besarnya tekanan pekerjaan di pabrik-pabrik China.

Selain itu, fenomena ini dikhawatirkan akibat industrialisasi China yang memancing jutaan pekerja migran meninggalkan kehidupan mereka di perdesaan. Foxconn mengatakan pihaknya memperlakukan para pekerjanya secara manusiawi dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Saudari Ma Xiangqian, Ma Liqun, yang juga bekerja di pabrik yang sama, mengatakan keresahan pekerja disebabkan oleh jam kerja yang panjang, tuntutan produksi yang tinggi dengan disiplin sangat ketat.

Perjalanan Ma dari desa lengang di Provinsi Henan menuju ke kompleks perindustrian di selatan China menggambarkan betapa tingginya harapan para pekerja migran mencari pendapatan yang lebih baik. Namun ternyata harapan mereka berujung maut.

“Keras dan terang, tahun ini akan lebih baik dibanding tahun lalu,” bunyi pepatah tradisional Tahun Baru Imlek yang ditempel di gerbang rumah Ma.

“Naga dan macan hidup, tahun depan akan lebih baik.” Ma mengambil pekerjaan di Foxconn untuk membantu keluarganya melunasi utang sebesar 60.000 yuan yang digunakan untuk membangun rumah dua tingkat.

Rumah itu bertujuan supaya Ma dapat melamar seorang gadis. “Di desa, sesulit apa pun, kita harus membangun rumah yang layak agar anak kami dapat menikah,” kata ayah Ma, Ma Zishan.

“Keluarga membutuhkan seorang putra untuk menjaga keutuhan keluarga dan mengurus sawah. Namun kini dia sudah meninggal dan saya tidak tahu harus bagaimana.”

Orang tua Ma sudah dijatuhi denda karena memiliki empat anak, jumlah yang melebihi batas yang ditetapkan dalam program keluarga berencana. Sama seperti warga desa lain, mereka berharap anakanak menemukan pekerjaan dan mengirim uang untuk membantu membangun rumah, membeli sepeda motor, dan televisi. Tekanan Besar Para pekerja migran China mendapat tekanan lebih besar dari keluarga mereka di kampung halaman. Hal ini yang membuat mereka semakin resah.

“Selama bekerja, para pekerja migran menanggung beban membangun rumah, menikah, punya anak, dan sukses. Tekanan ini terus mendorong mereka,” kata Li Changping, mantan pejabat desa yang dikenal karena mengurangi beban ekonomi para petani.

Li menyatakan tidak mungkin mengaitkan langsung kematian pekerja Foxconn dengan tekanan dari kampung halaman. “Namun para pekerja mau tidak mau merasakan tekanan,” imbuhnya.

Sama seperti masyarakat pedesaan China modern, kampung halaman Ma didominasi oleh orang tua dan anak-anak.

“Nyaris semua orang muda pergi untuk mencari kerja,” kata Ma Zibing, warga desa berusia 62 tahun. Sebagian besar masyarakat perdesaan mencari kerja ke Guangdong dan ke semua penjuru negeri. Yang tersisa di desa adalah orang tua dan anak-anak,” ujarnya.

Hasil Pertanian Penduduk desa mampu menghasilkan ribuan yuan per tahun dengan membudidayakan tanaman umbi-umbian, bunga, serta sayur mayur. Hasil panen mereka kemudian dijual ke kota-kota besar.

Namun hasil panen dari bertani atau berkebun masih kurang bagi pemuda-pemuda desa. Mereka cenderung memilih bergabung dengan jutaan pekerja migran yang bekerja di sektor infrastruktur, properti, dan manufaktur.

Di Provinsi Henan, dari 100 juta penduduk, nyaris 70 persen dari mereka adalah pekerja migran dari perdesaan.

“Kita harus melakukan semua itu untuk mendapat banyak uang,” kata Ma Wenfang, warga desa berusia 21 tahun.

Dia kembali ke desa untuk menikah setelah bekerja di pabrik di China bagian selatan. Pertanian bukan pilihan bagi pemuda dan pemudi desa China saat ini. “Tidak ada lagi yang mau bertani.

Tidak ada seorang pun seusia kami yang bisa bercocok tanam,” kata Me Wenfang. Di kampung halaman Ma Xianqian, umbi-umbian yang dulu menjadi sumber pendapatan keluarga layu dan mati.

Lahannya pun semakin banyak ditumbuhi rumput ilalang. Para tetangga yang simpatik tidak bisa berbuat banyak.

“Tidak ada seorang pun yang punya waktu membantu. Kami semua terlalu sibuk mengurus urusan masing-masing,” kata Ma Shujian, seorang tetangga Ma Xianqian.

Indonesia, TKI, TKW, BMI, Migrant, migran, buruh, pekerja, perawat, nurse, baby sitter, prt, pembantu rumah tangga, hongkong, korea, china, rrc, batam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar